Jam 2.13 pagi. Langit di atas Desa Klatanlo, Wulanggitang, Flores Timur tidak hitam. Langit itu merah menyala.
Gunung Lewotobi Laki-Laki — gunung kembar yang selama ini menjadi tetangga, menjadi penjaga kebun, menjadi arah pulang — hari itu meraung. Batu panas sebesar kepalan tangan melesat. Abu panas menyapu atap seng. Dalam hitungan menit, yang mereka bangun seumur hidup, hilang.
Esok paginya, Bapa Yosef berdiri di atas fondasi rumahnya. Fondasinya masih ada. Dindingnya tidak. Di tangannya, hanya sisa selimut tenun ikat warisan ibunya yang setengah gosong.
Di pos pengungsian Desa Konga, 5 kilometer dari puncak, anaknya yang berumur 6 tahun bertanya pelan:
“Bapa, kapan kita pulang?”
Bapa Yosef tidak bisa menjawab. Karena tenda terpal biru di belakangnya bukan rumah. Dan tikar yang digelar di lantai balai desa, seberapa lama pun digelar, tidak akan pernah terasa seperti kamar anaknya sendiri.
Berita menulisnya sebagai angka. Kita membacanya sebagai statistik.
Pada erupsi November 2024, 10 saudara kita meninggal dunia tertimpa reruntuhan. 63 orang luka-luka. Lebih dari 10.295 jiwa mengungsi, menurut BNPB. Dan 2.336 rumah di 7 desa Klatanlo (237 rumah), Hokeng Jaya (311), Nawokote (334), Boru (687), Pululera (337), Boru Kedang (296), dan Dulipali (164) rusak berat, terbakar, tertimbun abu dalam radius 7 kilometer.
Tapi bagi warga Flores, itu bukan 2.336 rumah. Itu 2.336 cerita.
Itu adalah dapur tempat Mama Maria setiap subuh menumbuk jagung titi untuk bekal anak-anak sekolah. Itu adalah tiang kayu tempat Bapa Yosef mengukir tinggi badan anaknya setiap tahun. Itu adalah loteng tempat mereka menyimpan benih jagung untuk musim tanam depan.
Ketika dinding itu runtuh, yang runtuh bukan cuma semen. Yang runtuh adalah rasa aman untuk memejamkan mata. Yang hilang adalah kepastian bahwa besok, anak masih bisa berlari di halaman yang sama.
Orang Flores tidak pernah meminta dikasihani. Mereka adalah pelaut yang melawan ombak Lamalera, petani yang mengolah tanah vulkanik yang keras, perempuan-perempuan penenun yang sabar memintal benang menjadi ikat yang bernilai. Mereka tangguh.
Yang mereka butuhkan bukan belas kasihan yang datang dan pergi. Yang mereka butuhkan adalah kepastian untuk pulang.
Selama berbulan-bulan, mereka tinggal di pengungsian. Anak-anak sekolah di tenda darurat. Ibu-ibu memasak di dapur umum. Abu Lewotobi masih turun hampir setiap hari ke halaman pengungsian, mengingatkan bahwa trauma itu belum selesai.
Bantuan tenda, selimut, dan makanan adalah napas pertama. Tapi manusia tidak bisa hidup selamanya dengan menahan napas.
Mereka butuh rumah. Bukan hunian sementara yang harus dibongkar lagi 6 bulan kemudian. Tapi rumah yang permanen. Yang kokoh. Yang bisa diwariskan lagi ke anak mereka.
Di sinilah Gerakan #PULANGKEFLORES lahir bersama DOMUS – Rumah Permanen Instan.
Domus bukan tenda yang diperbagus. Domus adalah rumah permanen sesungguhnya, dengan pondasi, dinding bata, atap yang kokoh, yang dibangun dengan sistem instan. Jika rumah konvensional butuh berbulan-bulan, satu unit Domus bisa berdiri dan siap dihuni dalam 24 jam.
Itu bukan jargon marketing. Itu adalah jawaban untuk pertanyaan anak kecil di pengungsian: “Kapan kita pulang?” Jawabannya: Besok. Besok pagi, kamu sudah bisa tidur di kamarmu lagi.
Lihat foto rumah biru muda dengan pagar putih itu. Itu Domus. Di atasnya berkibar Merah Putih. Di depannya, Bapa Yosef, Mama Maria, dan anak mereka berdiri pakai tenun ikat kebanggaan mereka. Di belakang mereka, Gunung Lewotobi Kembar masih berdiri megah. Gunung yang kemarin melukai mereka, hari ini menjadi saksi mereka pulang.
Kami belajar, membantu Flores bukan tentang memberi dari atas ke bawah. Tapi tentang mengembalikan apa yang direnggut.
Mengembalikan suara tawa anak yang berlari dari dapur ke ruang tamu.
Mengembalikan wangi kopi Flores yang diseduh di pagi hari di teras rumah sendiri.
Mengembalikan keberanian seorang ibu untuk berkata, “Ayo masuk, Nak, sudah di rumah.”
Karena pada akhirnya, bencana akan selalu mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang kecil di hadapan gunung.
Tapi #PULANGKEFLORES mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang besar ketika kita bergotong royong.
Flores tidak butuh tenda.
Flores butuh pulang.
Dan pulang itu, bisa kita bangun. Hari ini. Dalam 24 jam.
DOMUS – Rumah Permanen Instan
#PULANGKEFLORES | Rumah 24 Jam, Pulang Seumur Hidup.
WhatsApp us